|
RANGKAIAN PENAPIS RC
(E4)
|
|
Desy Novitasari, Siti Nor Fatmah, Irma Sari, Ali
Fitroni, Tuti Nurlatifah, Mirna Wati, & Meyrika Maharani.
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ipa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Brigjend Hasan Basry, Kotak Pos 219 Banjarmasin 70123 Indonesia e-mail: info@unlam.ac.id |
Abstrak—Percobaan rangkaian penapis RC
bertujuan untuk mengetahui cara menentukan rangkaian tapis
RC lolos rendah dan tinggi, dan untuk menganalisis bentuk persamaan-persamaan
rangkaian tapis RC lolos rendah dan tinggi berdasarkan grafik bode-plot, serta
untuk merencanakan sistem rangkaian tapis RC tingkat satu. Metode yang digunakan mengukur tegangan output. Rangkaian tapis RC lolos
rendah, semakin besar frekuensi, tegangan semakin kecil. Nilai tegangan alih {(0,028±0,008);(0,078±0,011);(0,020±0,008);(0,015±0,007)}.
Rangkaian tapis RC lolos tinggi, semakin besar frekuensi, tegangan semakin
besar. Nilai tegangan alih {(0,092±0,012); (0,13±0,01);(0,13±0,01);(0,14±0,01)}.
Kata
Kunci—penapis, tapis, tegangan, output,
frekuensi.
I.
PENDAHULUAN
|
S
|
uatu rangkaian yang digunakan untuk
membuang tegangan output pada frekuensi tertentu disebut filter. Dimana filter
tersebut terdiri dari beberapa jenis yaitu tapis lolos rendah, tapis lolos
tinggi, filter lolos rendah, dan filter tolah rentang. Pada praktikum kali ini
yang akan dibahas adalah jenis tapis lolos rendah dan tapis lolos tinggi. Tapis
lolos rendah digunakan untuk meneruskan sinyal berfrekuensi rendah dan merendam
sinyal berfrekuensi tinggi. Sedangkan tapis lolos tinggi berfungsi untuk
melecutkan sinyal berfrekuensi tinggi dan merendam sinyal frekuensi rendah.
Berdasarkan
latar belakang tersebut di atas , dapt diambil suatu rumusan masalah yakni,
“Bagaimana cara menentukan dan menganalisis bentuk persamaan-persamaan
rangkaian tapis lolos RC renda dan tapis lolos RC tinggi berdasrkan grafik
bode-plot, serta merencanakan sistem rangkaian tapis RC tingkat satu ?”
Adapun tujuan
dari percobaan kali ini yaitu untuk mengetahui cara menentukan rangkaian tapis
RC lolos rendah dan tinggi, dan untuk menganalisis bentuk persamaan-persamaan
rangkaian tapis RC lolos rendah dan tinggi berdasarkan grafik bode-plot, serta
untuk merencanakan sistem rangkaian tapis RC tingkat satu.
II.
KAJIAN TEORI
Rangkaian RC
sebagaipenapis frekuensi dengan arti bahwa rangkaian RC yang ada bersifat
meloloskan frekuensi tinggi, dan juga sebaliknya.
1.
Rangkaian
Tapis RC Lolos Rendah
Untuk rangkaian
jenis ini memiliki bentuk rangkaian sebagai berikut :

Gambara 1. Rangkaian Tapis RC Lolos Rendah
Pengertian lolos
rendah dalam hal ini adalah jika tegangan input (Vi) diterapkan pada rangkaian RC di atas, maka untuk
frekuensi-frekuensi rendah tegangan output (Vo) akan sama dengan tegangan input (Vi), tetapi sebaliknya jika frekuensi yang digunakan besar maka
tegangan output akan turun sesuia dengan perubahan frekuensi tersebut.
Pernyataan
matematis tentang tegangan output terhadap input adalah dinyatakan oleh
persamaan kompleks :
Perbandingan antara tegangan input dan
tegangan output pada persamaan 1 disebut fungsi alih (tegangan frekuensi) yang dirumuskan oleh :
Dimana wp
= 1/RC disebut kutub. Selanjutnya hal yang menarik untuk dukaji pada
persamaan 2 adalah melukiskan grafik teanggapan amplitudo untuk tapis lolos
remdah dengan menggunakan Bode-plot. Seringkali orang melakukan bode-plot I
menggunakan ratio tegangan dalam dB, yang didefinisikan sebagai :
2.
Rangakaian
Tapi RC Lolos Tinggi
Untuk jenis
rangkaian ini hanya dapat meloloskan tegangan input pada frekuensi tinggi.
Secara sederhana bentuk rangkaian sebagai berikut :

Gambar 2. Rangkaian Tapis RC Lolos Tinggi
Dengan cara yang sama seperti pada tapis RC
lolos rendah maka besar G(w) adalah
Dimana wp
= 1/RC disebut kutub.[1]
1.
Rangakain Tapis RC Lolos Rendah
Rangkaian jenis
ini memiliki bentuk rangkaian seperti berikut ini. Pada gambar 3, dalam hal ini
jika tegangan input (Vi) diterapkan
pada rangkaian RC (seperti gambar 4) maka untuk frekuensi-frekuensi rendah
tegangan input (Vi) tetapi sebaliknya
jika frekuensi-frekuensi rendah tegangan output (Vo) akan sama dengan tegangan input (Vi) tetapi sebaliknya jika frekuensi yang digunakan besar maka
tegangan output akan turun sesuai dengan perubahan frekuensi tersebut.
Persamaan
matematis, tegangan output terhadap tegangan input dapat ditulis.
Persamaan fungsi alih sebagai berikut.

Gambar 3. Tapis RC Lolos Rendah
Bode-plot
seringkali dilukis menggunakan ratio tegangan dalam dB (desibel) yang
didefinisikan sebagai berikut.[2]
2.
Rangkaian Tapis RC Lolos Tinggi
Rangkaian ini disebut juga rangkaian pendeferensial RC.

Gambar 4. Tapis RC Lolos Tinggi
Fungsi Alih[3]
Dengan Ri
dan 
Kemudian :
atau
(6)
Tegangan sumber yang berubah dengan waktu secara
bolak balik, atau dengan tegangan AC (seperti pada gambar 5). Sumber tegangan
mempunyai harga
. Harga tetapan fasi ϕo kita ambil sama dengan nol. Ini
berarti kita menyertakan pada saat t=0 harga
. perhatikan bahwa besaran
sesaat kita nyatakan dengan huruf kecil, dan harga rata-rata harga Ims
, dan amplitudo kita nyatakan dengan huruf besar.[4]

Gambar 5. Rangkaian Seri RC
Banyaknya
rangkaian elektronika harus memproses (mengolah) sinyal yang frekuensinya
berubah secara lebar. Contoh khas adalah audio atau penguat video dalam
frekuensi sinyal mempunyai jangkauan berturut-turut dari 50 Hz – 20000 Hz, dan dari
100 Hz – 4000000 Hz. Tambah lagi alat-alat yang digunakan dalam sistem ini
harus diartikan dalam jangkauan frekuensi operasi. Karena frekuensi sinyal yang
lebar, maka sering kali rangkaian dan alat-alat dalam bentuk grafik. Dan pada
tanggapan keduanya biasanya diinginkan salah satu dari bentuk yang paling lazim
dari penjukkan ini adalah diagram bode.[5]
III. METODE PERCOBAAN
Pada percobaan rangkaian penapis RC ini diperlukan peralatan seperti sebuah
komponen kapasitor dan resistor, sebuah audio generator, sebuah osiloskop, dan
tiga buah kabel penghubung.

Gambar 5. Alat dan bahan percobaan
Adapun rumusan
hipotesis yang saya ajukan pada percobaan kali ini yaitu pada rangkaian tapis RC lolos rendah, semakin
besar frekuensi maka tegangan output semakin kecil. Dan pada rangkaian penapis
RC lolos tinggi, semakin besar frekuensi maka tegangan outputnya semakin besar.
Pada
percobaan kali ini pula telah dibuat identifikasi dan definisi operasional
variabel, untuk percobaan rangkaian tapis RC lolos rendah dan rangkaian tapis
RC lolos tinggi variabel yang digunakan sama. Variabel yang dimanipulasi adalah
frekuensi yaitu jumlah getaranpersatuan waktu, dalam satuan Hz yang diubah-ubah
sebanyak empat kali, yakni sebesar 50 Hz, 500 Hz, 5000 Hz dan 50000 Hz dengan
menggunakan audio generator. Variabel yang direspon adalah tegangan output (Vo)
yaitu isyarat keluaran yang akan diukur dalam satuan volt dan bentuk gelombang
yaitu rapat atau renggangnya gelombang yang diamati, yang diukur dan diamati
dengan menggunakan osiloskop. Dan variabel yang dikontrol adalah kapasitor
yaitu sebagai tempat penyimpanan energi dengan kapasitansi 1 mF atau setara dengan 10-6F, resistor
yaitu sebagai penghambat arus yang mengalir pada rangkaian dengan resistansi 10
kW, tegangan input yaitu isyarat masukan yang ditetapkan pada audio generator
sebesar 8 volt, menggunakan osiloskop yang sama selama percobaan, serta dengan
mempertahankan masing-masing rangkaian yakni rangkaian tapis RC lolos rendah
dan rangkaian tapis RC lolos tinggi.
Adapun prosedur kerja yang telah dilakukan dalam percobaan kali ini yang
pertama adalah mencatat nilai komponen-komponen bahan yang digunakan, dan
sebelum melakukan pengukuran kita harus melakukan kalibrasi pada osiloskop
dengan tampilan gelombang persegi pada layar. Perlu diingat bahwa setelah
dikalibrasi, osiloskop tidak boleh terkalibrasi lagi yaitu dengan
mempertahankan posisi tombol CAL (Vp-p) pada osiloskop. Kemudian melakukan percobaan
pada rangkaian tapis RC lolos rendah yakni dengan merangkai peralatan seperti
pada gambar 6. Selanjutnya mengatur frekuensi mulai dari 50 Hz, setelah
terbentuk gelombang, mendokumentasikan bentuk gelombang. kemudian mengukur tegangan output audio generator
untuk tegangan sinusiodal, mengarahkan mode (x-y) sehingga pada layar terbentuk
garis lurus variabel. Memperhatikan garis yang terbentuk dan mencatat tegangan
yang terbaca pada tabel 1. Melakukan kembali pengukuran dengan frekuensi 500
Hz, 5000 Hz dan 50000 Hz.

Gambar 6. Rangkaian Tapis RC Lolos
Rendah
Pada percobaan kedua yakni rangkaian tapis RC lolos tinggi, dengan
merangkai peralatan seperti pada gambar 7. Pada percobaan ini dilakukan sama
dengan percobaan rangkaian tapis RC lolos rendah, hanya saja tegangan output
yang diukur saja yang dibedakan. Dan hasil pengukurkan percobaan ini dicatat
pada tabel 2.

Gambar 7. Rangkaian Tapis RC Lolos Tinggi
Adapun teknik analisis yang digunakan pada kedua percobaan kali ini. Untuk
memperoleh nilai tegangan output dan periode yang terukur yaitu :
Untuk memperoleh nilai
fungsi alih (tegangan frekuensi) pada rangkaian tapis RC lolos rendah dan
rangkaian tapis RC lolos tinggi menggunakan persamaan 6. Dan untuk memperoleh
nilai ketidakpastiannya menggunakan persamaan berikut ini.
Dan persamaan untuk tanggapan amplitudonya (tegangan
dalam dB(desibel) pada rangkaian tapis RC lolos rendah maupun rangkaian tapis
RC lolos tinggi menggunkan persamaan 7. Dan untuk memperoleh nilai kutub yakni
menggunakan persamaan berikut ini.
wp = 1/RC (13)
IV. DATA DAN PEMBAHASAN
Percobaan
rangkaian tapis RC lolos rendah dan tinggi in bertujuan untuk mengetahui cara menentukan rangkaian tapis RC lolos rendah dan
tinggi, dan untuk menganalisis bentuk persamaan-persamaan rangkaian tapis RC
lolos rendah dan tinggi berdasarkan grafik bode-plot, serta untuk merencanakan
sistem rangkaian tapis RC tingkat satu. Hasil
pengukuran tegangan output menggunakan osiloskop, nilai skala terkecilnya
adalah 0,1 volt sehingga ketelitiannya sebesar 0,05 volt.
Pada percobaan rangkaian tapis RC lolos rendah dan tapis
RC lolos tinggi ini diperoleh hasil percobaan yang tampak pada tabel 1 dan
tabel 2 sebagai berikut.
C = 10-6
F ; R = 104 W ; Vi = 8 volt
Tabel 1.
Rangkaian Tapis RC Lolos Rendah
|
NO
|
f
(Hz)
|
(Vc±0,05)
volt
|
Garis Gelombang
|
|
1
|
50
|
0,63
|
![]() |
|
2
|
500
|
0,22
|
![]() |
|
3
|
5000
|
0,16
|
![]() |
|
4
|
50000
|
0,12
|
![]() |
Tabel 2. Rangkaian Tapis RC Lolos Tinggi
|
NO
|
f
(Hz)
|
(Vc±0,05)
volt
|
Garis Gelombang
|
|
1
|
50
|
0,74
|
![]() |
|
2
|
500
|
1,04
|
![]() |
|
3
|
5000
|
1,07
|
![]() |
|
4
|
50000
|
1,08
|
![]() |
Berdasarkan hasil pengukuran nilai tegangan output dengan menggunakan
osiloskop, dapat dilihat pada tabel 1 rangkaian tapis RC lolos rendah sudah
sesuai dengan teorema ataupun hipotesis yang telah diajukan yakni semakin besar
frekuensi maka teganga outputnya semakin kecil. Dan pada tabel 2rangkaian tapis
RC lolos tinggi juga sudah sesuai teorema atau hipotesis yang telah diajukan
yakni semakin besar frekuensi maka tegangan outputnya semakin besar.
Berdasarkan hasil percobaan di atas pada tabel 1 dan tabel 2 yakni pada
percobaan rangkaian tapis RC lolos rendah dan rangkaian tapis RC lolos tinggi
dapat diperoleh nilai alih fungsi (tegangan frekuensi) dengan menggunakan
persamaan 6, serta ketidakpastiannya dengan menggunakan persamaan 10. Pada
kedua jenis rangkaian percobaan ini yang dimanipulasi sama, yaitu frekuensi
sebesar 50 Hz, 500 Hz, 5000 Hz dan 50000 Hz. Pada percobaan rangkaian tapis RC
lolos rendah telah diperoleh alih fungsi untuk frekuensi 50 Hz sebesar
(0,078±0,011) dengan kesalahan relatif 14,2% sehingga derajat kepercayaan yang
diperoleh sebesar 85,8%, frekuensi 500 Hz sebesar (0,028±0,008) dengan
kesalahan relatif 28,97% sehingga derajat kepercayaan yang diperoleh sebesar
71,03%, frekuensi 5000 Hz sebesar (0,020±0,008) dengan kesalahan relatif 37,5%
sehingga derajat kepercayaan yang diperoleh sebesar 62,5% dan frekuensi 50000
Hz sebesar (0,015±0,007) dengan kesalahan relatif 48% sehingga derajat kepercayaan
yang diperoleh sebesar 52%.
Pada percobaan rangkaian tapis RC lolos tinggi telah diperoleh nilai alih
fungsi (tegangan frekuensi) untuk frekuensi 50 Hz sebesar (0,092±0,012) dengan
kesalahan relatif 13% sehingga derajat kepercayaan yang diperoleh sebesar 87%,
frekuensi 500 Hz sebesar (0,13±0,01) dengan kesalahan relatif 11,05% sehingga
derajat kepercayaan yang diperoleh sebesar 88,95%, frekuensi 5000 Hz sebesar
(0,13±0,01) dengan kesalahan relatif 10,92% sehingga derajat kepercayaan yang
diperoleh sebesar 89,08% dan frekuensi 50000 Hz sebesar (0,14±0,01) dengan
kesalahan relatif 10,87% sehingga derajat kepercayaan yang diperoleh sebesar
89,13%. Berdasarkan hasil perhitungan pada kedua rangkaian ini dapat dinyatakan
percobaan masih belum berhasil karena dilihat dari angka kesalahan telatif yang
masih cukup besar, yang artinya antara tegangan input dan pengukuran tegangan
output yang masih belum tepat. seperti ketidaktepatan praktikum dalam
menentukan batas ukur volt/Div, kurang teliti dalam menghitung skala yang
terbaca, serta komponen bahan yang digunakan seperti kapasitor dan resistor
yang sudah terlalu sering digunakan.
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan persamaan 7 yakni tanggapan
amplitudo (tegangan dalam desibel). Pada rangkaian tapis RC lolos rendah dan
rangkaian tapis RC lolos tinggi telah diperoleh nilai perbandingannya terhadap
frekuensi yakni sebagai berikut.
Tabel 3. Rangkaian Tapis
RC Lolos Rendah
|
NO
|
f (HZ)
|
G(ω) (dB)
|
|
1
|
50
|
-22,07
|
|
2
|
500
|
-31,21
|
|
3
|
5000
|
-33,98
|
|
4
|
50000
|
-36,48
|
Tabel 4. Rangkaian Tapis
RC Lolos Tinggi
|
NO
|
f (HZ)
|
G(ω) (dB)
|
|
1
|
50
|
-20,68
|
|
2
|
500
|
-17,72
|
|
3
|
5000
|
-17,47
|
|
4
|
50000
|
17,39
|
Bedasarkan tabel 3 dan
tabel 4 dapat dibuat grafik bode-plot hubungan G(ω) (dB) terhadap frekuensi
yakni sebagai berikut.

Gambar 8. Grafik G(ω) (dB)-f Rangkaian Tapis RC Lolos Rendah

Gambar 9. Grafik G(ω) (dB)-f Rangkaian Tapis RC Lolos Tinggi
Berdasarkan gambar 8 grafik bode-plot tersebut dapat dilihat bahwa pada rangkaian tapis RC
lolos rendah ini tanggapan amplitudo (tegangan dalam desibel) bernilai negatif,
yang nilainya semakin besar frekuensi maka semakin kecil nilai tanggapan
amplitudonya. Sedangkan pada rangkaian tapis RC lolos tinggi yakni gambar 9,
semakin besar frekuensi maka nilai tanggapan amplitudonya semakin semakin
besar.
Jika dilihat berdasarkan garis gelombang yang terbentuk dapat dilihat pada
tabel 1 rangkaian tapis RC lolos rendah semakin besar frekuensi yang digunakan
garis gelombang yang terbentuk semakin rapat, begitu pula pada tabel 2
rangkaian tapis RC lolos tinggi semakin besar frekuensi yang digunakan gelombang
yang terbentuk juga semakin rapat.
Adapun nilai kutub yang dapat diperoleh menggunakan persamaan 11, yakni
nilai kutub pada rangkaian tapis RC lolos rendah dan rangkaian tapis RC lolos
tinggi adalah sebesar 100W-1F-1.
V. SIMPULAN
Pada percobaan rangkaian penapis RC ini untuk
rangkaian tapis RC lolos rendah akan meloloskan tegangan outputnya dengan nilai
kecil kecil, apabila diberikan frekuensi yang besar atau sesuai dengan teorema
bahwa semakin besar frekuensi maka nilai tegangan outputnya semakin besar. Pada
rangkaian tapis RC lolos tinggi akan meloloskan tegangan outputnya dengan nilai
besar apabila diberikan frekuensi yang besar dan hal tersebut juga sesuai
dengan teorema rangkaian tapis RC lolos tinggi bahwa semakin besar frekuensi
maka nilai tegangan outpunya jua akan semakin besar.
Adapun bentuk persamaan dari rangkaian tapis RC
lolos rendah maupun rangkaian tapis RC lolos tinggi yakni pada pesamaan 6 untuk
memperoleh nilai fungsi alih (frekuensi tegangan) dan persamaan 7 untuk
memperoleh nilai tanggapan amplitudo (tegangan dalam desibel). Pada rangkaian
tapis RC lolos rendah telah diperoleh nilai fungsi alih pada setiap frekuensi
sebesar (0,028±0,008), (0,078±0,011), (0,020±0,008) dan (0,015±0,007). Dan
untuk nilai tanggapan amplitudonya sebesar -22,07 dB, -31,21 dB, -33,98 dB dan
-36,48 dB. Berdasarkan hasil tersebut untuk nilai tanggapan amplitudo yang
dihubungkan terhadap frekuensi akan terbentuk grafik bode-plot seperti pada
gambar 8, hasil tersebut sesuai dengan teorema bahwa semakin besar frekuensi
maka nilai tegangan semakin kecil.
Pada rangkaian tapis RC lolos tinggi nilai funsi
alih pada setiap frekuensinya sebesar (0,092±0,012), (0,13±0,01), (0,13±0,01)
dan (0,14±0,01). Dan nilai tanggapan amplitudonya sebesar -20,68 dB, -17,72 dB,
-17,47 dB dan -17,39 dB. Jika dihubungkan grafik amplitudo tegangan dalam
desibel terhadap frekuensi dapat dilihat pada gambar 9, yang juga sesuai dengan
teorema bahwa semakin besar frekuensi maka tegangan juga akan semakin besar.
UCAPAN TERIMAKASIH
Saya mengucapkan terimakasih kepada
asisten praktikum Rangkaian Penapis RC (E4) yaitu Meyrika Maharani yang memberikan bimbingan saat melalukan
praktikum ataupun pralaboratorium. Serta kepada teman-teman satu kelompok yang
telah bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan percobaan ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Tim Dosen Fisika Elektronika Dasar 1. 2015. Penuntun Praktikum Elektronika Dasar. Banjarmasin : FKIP UNLAM
[2]
Halliday dan Resnick. 1992. Fisika Dasar
Jilid 2. Jakarta : Erlangga
[3]
Sutrisno. 1986. ELEKTRONIKA 1 TEORI
DAN PENERAPANNYA. Bandung : ITB
[4]
Sutrisno dan Tan Ik Gie. 1983. Fisika
Dasar II. Bandung : ITB
[5]
Fittgerald. 1931. Dasar-Dasar
Elektronika. Jakarta : Erlangga








Tidak ada komentar:
Posting Komentar