|
RANGKAIAN SETARA
(E1)
|
|
Desy Novitasari., Siti Nor Fatmah., Irma Sari., Ali
Fitroni., Tuti Nurlatifah., Mirna Wati., Riska Asyari Putri.
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ipa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Brigjend Hasan Basry, Kotak Pos 219 Banjarmasin 70123 Indonesia e-mail: info@unlam.ac.id |
Abstrak—Percobaan rangkaian setara
bertujuan untuk memahami dan menerapkan rangkaian setara Thevenin dan rangkaian
setara Norton. Metode yang digunakan mengukur besar (ETh;RTh;ITh
dan EN;RN;IN). Hasil perhitungan teoritis
Thevenin {( ETh= 0,813v; 1,626v; 2,440v); (RTh= 34,28W); (ITh= 0,024A; 0,047A; 0,07A)} dan perhitungan teoritis Norton
{( EN= 1,09v; 2,18v; 3,28v); (RN= 17,14W); (ITh= 0,06A; 0,127A; 0,19A)} berdasarkan hasil teoritis masih
berbeda dengan hasil pengukuran pada tabel 1 dan 2, hal tersebut dikarenakan
ketidaktelitian pratikum. Rangkaian setara ini biasanya untuk penyederhanaan
rangkaian dari rangkaian dari rangkaian yang rumit menjadi rangkaian yang lebih
sederhana.
Kata
Kunci—Rangkaian setara, Thevenin, Norton.
I.
PENDAHULUAN
|
D
|
alam kehidupan sehari-hari kita sering
sekali menjumpai barang-barang elektronika, seperti radio, telepon, perekam
kaset dan sebagainya. Dimana barang elektronika ini tersusun atas rangkaian
elektronika. Sehingga dapat digunakan dan berfungsi dengan baik. Berbicara
tentang rangkaian elektronika, tidak lepas kaitannya dengan berbagai jenis
rangkaian elektronika, mulai dari rangkaian elektronika, mulai dari rangkaian
elektronika yang kompleks hingga rangkaian elektronika yang lebih sederhana.
Rangkaian elektronika yang sederhana yaitu rangkaian seri dan paralel.
Rangkaian elektronika yang kompleks merupakan rangkaian elektronika yang
membutuhkan analisis dan penerapan beberapa teori untuk bisa menyelesaikan
pengukuran pada rangkaiannya. Suatu
penyederhanaan rangkaian dari rangkaian kompleks menjadi rangkaian yang lebih
sederhana, memudahkan kita untuk melakukan pengukuran tetapi dengan hasil yang
tetap sama dengan rangkaian aslinya, atau disebut juga sebagai rangkaian
setara.
Berdasarkan
latar belakang tersebut dapat diambil suatu rumusan masalah yaitu “Bagaimana
memahami dan menerapkan rangkaian setara Thevenin dan rangkaian setara Norton
?”
Adapun
tujuan dari percobaan kali ini yaitu memahami dan menerapkan rangkaian setara
Thevenin dan rangkaian setara Norton.
II.
KAJIAN TEORI
Teori
Dua buah hambatan R1 dan R2 yang dihubungkan secara
paralel, dapat digantikan dengan sebuah resistor bernilai R3 = (R1
× R2)/( R1 + R2). Hambatan R3 ini
disebut sebagai hambatan setara R1 dan R2 dan juga bisa
ditulis R3 = R1 // R2 pengertian hambatan
setara tidak hanya digunakan untuk dua hambatan paralel saja, akan tetapi untuk
segala macam hubungan antara beberapa buah hambatan. Dengan menggunakan
rangkaian setara kita dapat membahas perilaku suatu alat elektronik berdasarkan
pengukuran pada keluaran tanpa mengetahui rangkaian dalamnya.
Ada
dua bentuk rangkaian setara, yakni rangkaian setara Thevenin dan rangkaian
setara Norton.[1]

Gambar 1. Rangkaian Setara Thevenin

Gambar 2. Rangkaian Setara Norton
·
Rangkaian setara
Thevenin
Rangkaian setara
Thevenin
Gambar 3. Rangkaian Pembagi
Tegangan
a.
Tanpa beban
b.
Diberi beban
Rangkaian setara
Thevenin menggunakan sumber tegangan tetap, yakni sumber tegangan ideal dengan
tegangan keluaran yang tek berubah berapun besarnya arus yang diambil dirinya.
Rangkaian setara Norton menggunakan sumber arus tetap, yang dapat menghasilkan
arus tetap berapapun hambatan yang dipasang pada keluarannya.
Rangkaian
pembagi tegangan ini dikatakan mempunyai dua buah ujung (terminal), yaitu a dan
b. Kedua ujung ini membentuk suatu gerbang keluaran. Secara umum, rangkaia
pembagi tegangan dikatakan mempunyai gerbang tunggal, yaitu gerbang keluaran,
atau disebut juga dengan rangkaian dua ujung.
Pada gambar 3(a), rangkaian listrik
ini dikatakan mempunyai keluaran terbuka. Karena dari gerbang keluar ab tidak
diambil arus. Pada keadaaan ini tegangan keluar disebut tegangan keluar
terbuaka yang disebut Vo,b dari gambar 3(a). Jelas tegangan keluaran
terbuka, yaitu
Pada gambar 3(b) yang a dan ujung b dihubungkan dengan suatu
hambatan beban, RL. Dengan adanya hambatan beban RL, arus dalam lingkaran
(loop) menjadi :
Dengan
diambil arus beban atau dibebani, rangkaian pembagi tegangan ternyata mengalami
penurunan atau jatuh tegangan.[2]
·
Rangkaian Setara norton
Arus Norton (IN) didefinisikan sebagai arus beban saat
hambatan beban dihubungkan singkat. Arus Norton disebut arus hubungan singkat.
Hambatan Norton (RN) beban
sebagai hambatan yang diukur dengan ohm meter pada terminal beban pada saat
seluruh sumber diturunkan menjadi nol dan hambatan beban dihubung buka.
Rangkaian Norton terdiri dari suatu sumber arus tetap IN
paralel dengan suatu hambatan Ro seperti gambar menyalakan
konduktansi :

Gambar.4.
Rangkaian Setara Norton
Jika kedua ujung rangkaian Norton dihubungkan singkat seluruh arus IN
akan mengalir melalui keluaran. Arus m, harus sama dengan arus yang mengalir
bila kedua ujung rangkaian Thevenin dihubungkan singkat.
Dalam
hal ini :
Dari dua bentuk dasar rangkaian setara Norton, rangkaian secara
Thevenin menggunakan tegangan sumber tetap yaitu suatu tegangan ideal dengan
tegangan keluaran yang berubah berapapun besarnya arus yang diambil.[3]
Ada dua hukum yang berlaku bagi rangkaian yang
memiliki arus tetap (lunak) kedua hukum itu dinamakan hukum Kirchoff. Yaitu :
·Pada rangkaian tertutup, jumlah
aljabar dari beda potensial harus sama dengan nol.
·Pada setiap titik percabangan jumlah
arus yang masih melalui titik tersebut sama dengan jumlah arus yang keluar dari
titik tersebut.[4]
Sumber tegangan adalah alat yang dapat menimbulkan beda potensial atau
menghasilkan muatan listrik. Sumber tegangan yang dirangkai paralel memiliki
tegangan yang sama. Bila terdapat beberapa sumber tegangan paralel dengan
polaritas sama. Maka sumber tegangan yang ekivalen adalah sama.[5]
III. METODE PERCOBAAN
Pada percobaan rangkaian setara ini diperlukan
peralatan seperti 4 buah resistor tunggal, sebuah power supplay, sebuah
multimeter, dan 5 buah kabel penghubung.
Adapun rumusan hipotesis yang saya ajukan dalam percobaan kali ini yaitu
pada rangkaian setara Thevenin besar tegangan keluaran adalah tetap, berapapun
arus yang diambil. Dan pada rangkaian setara Norton berapapun hambatan yang
dipasang pada keluarannya, besar arusnya adalah tetap.
Pada
percobaan kali ini telah ditentukan pula identifikasi dan definisi operasional
variabel yang terbagi menjadi dua rangkaian percobaan yaitu pada rangkaian
setara Thevenin, variabel manipulasi yang digunakan adalah sumber tegangan
dalam satuan volt yaitu mengubah-ubah sumber tegangan sebesar 3 volt,6 volt,
dan 9 volt. Variabel kontrolnya adalah resistor (ohm), rangkaian, dan kabel
penghubung yaitu menggunakan resistor yang sama selama percobaan dengan
spekulasi 2 buah resistor 47 ohm dan 2 buah resistor 27 ohm, menetapkan
rangkaian yaitu rangkaian setara Thevenin, dan menggunakan 2 kabel penghubung
yang sama selama percobaan. Untuk variabel responnya adalah tegangan Thevenin (ETh),
Kuat arus Thevenin (ITh), dan Hambatan Thevenin (RTh)
yaitu dengan mengukur ketiga komponen tersebut dengan menggunakan multimeter. Sedangkan
pada rangkaian setara Norton, variabel manipulasinya adalah sumber tegangan
yaitu mengubah-ubah tegangan sebesar 3 volt, 6 volt, dan 9 volt. Dengan
variabel kontrolnya adalah resistor, rangkaian, kabel penghubung yaitu dengan
menetapkan 2 buah resistor dengan spekulasi 27 ohm dan 47 ohm, mempertahankan
rangkaian yaitu rangkaian setara Norton, dan menggunakan 3 buah kabel
penghubung yang sama selama percobaan.
Adapun prosedur
kerja yang harus dilakukan dalam percobaan kali ini yaitu pada percobaan rangkaian setara Thevenin, pertama-tama menghubungkan 4 buah
resistor dengan spekulasi yang sudah ditentukan dan menghubungkan resistor
tersebut pada sumber tegangan DC yaitu dengan menghubungkan arus positif di
antara R1 dan R3, kemudian dimulai dengan mengukur
tegangan keluaran (Vab) dengan menggunakan multimeter, dimana
positif multimeter diantara R1 dengan R2 dan negatif multimeter diantara R3
dengan R4 yang terlihat seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 5. Rangkaian Percobaan
Thevenin
Selanjutnya mengukur kuat arus Thevenin dengan cara yang sama seperti
sebelumnya dengan menggunakan satuan ampere dan mengukur hamabatan Thevenin
(resistansi total rangkaian) dalam satuan ohm pada alat ukur multimeter dengan
melepaskan power supplay atau dapat dikatakan dengan rangkaian dihubungkan
singkat.
Pada percobaan selanjutnya yaitu rangkaian setara Norton dengan menggunakan
2 buah resistor dan tiga kabel penghubung, pertama-tama merangkai peralatan
seperti pada gambar 6 berikut.

Gambar 6. Rangkaian Percobaan
Norton
Kemudian mengukur besar tegangan keluaran (Vab) dalam satuan
volt, kemudian mengukur besar kuat arus Norton
dalam satuan ampere dan mengukur resistansi total rangkaian dengan
dihubungkan singkat dalam satuan ohm pada alat ukur multimeter.
Selanjutnya mencatat hasil pengukuran pada tabel 1 untuk rangkaian setara
Thevenin dan tabel 2 untuk rangkaian setara Norton, dan dimana pada tebel
tersebut nilai tegangan keluaran pada ujung ab sama dengan nilai tegangan
setiap rangkaian dan alat ukur yang digunakan adalah multimeter dengan
ketelitian 0,01 baik dalam satuan volt, ampere, maupun ohm. Adapun teknik
analitik yang digunakan untuk hasil percobaan kali ini yaitu merupakan
persamaan teoritis berikut ini.
· Rangkaian
Setara Thevenin
· Rangkaian
Setara Norton
IV. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Percobaan
rangkaian setara ini bertujuan untuk memahami dan menerapkan rangkaian setara
Thevenin dan rangkaian setara Norton. Telah diperoleh hasil pengukuran dengan
menggunakan alat ukur multimeter untuk mengukur besar tegangan keluaran dengan
ketelitian 0,01 volt, kuat arus dengan ketelitian 0,01 ampere, dan hambatan
yang ketelitian alat ukurnya sebesar 0,01 ohm, ketelitian ketiga komponen ini
sama karena alat ukur yang digunakan adalah multimeter digital.
Pada percobaan rangkaian setara Thevenin diperoleh
hasil pengukuran dengan menggunakan empat buah resistor sebagai berikut.
Tabel 1. Rangkaian Setara
Thevenin
|
NO
|
VS
|
VAB
± 0,01V
|
ETh
± 0,01
V
|
ITh
±
0,01 A
|
RTh
±
0,01
W
|
SPEK.
R
W
|
|
1
|
3 V
|
0,73
|
0,73
|
0,07
|
36,80
|
R1= 47
R2= 27
R3= 27
R4= 47
|
|
2
|
6 V
|
1,40
|
1,40
|
0,13
|
36,80
|
|
|
3
|
9 V
|
2,06
|
2,06
|
2,06
|
36,80
|
|
|
|
||||||
Tabel 2. Rangkaian Setara
Norton
|
NO
|
VS
|
VAB
± 0,01V
|
EN
± 0,01
V
|
IN
±
0,01 A
|
RN
±
0,01
W
|
SPEK.
R
W
|
|
1
|
3 V
|
1,86
|
1,86
|
0,03
|
17,30
|
R1= 27
R2= 47
|
|
2
|
6 V
|
3,56
|
3,56
|
0,07
|
17,30
|
|
|
3
|
9 V
|
5,18
|
5,18
|
0,10
|
17,30
|
Bardasarkan
hasil pengukuran yang diperoleh pada tabel diatas untuk percobaan rangkaian
setara Thevenin, secara teoritis untuk memperoleh nilai tegangan Thevenin
menggunakan persamaan 5, untuk memperoleh nilai hambatan Thevenin menggunakan
persamaan 6, dan persamaan 7 digunakan untuk memperoleh nilai kuat arus
Thevenin. Pada percobaan pertama dengan sumber tegangan sebesar 3 volt telah
diperoleh nilai tegangan Thevenin sebesar 0,813 volt, nilai hambatan Thevenin
sebesar 34,28 ohm dan nilai kuat arus Thevenin sebesar 0,024 ampere. Pada
percobaan kedua dengan sumber tegangan sebesar 6 volt telah diperoleh diperoleh
nilai tegangan Thevenin sebesar 1,626 volt, nilai hambatan Thevenin sebesar
34,28 ohm dan nilai kuat arus Thevenin sebesar 0,047 ampere. Dan Pada percobaan
ketiga dengan sumber tegangan sebesar 9 volt telah diperoleh diperoleh nilai
tegangan Thevenin sebesar 2,44 volt, nilai hambatan Thevenin sebesar 34,28 ohm
dan nilai kuat arus Thevenin sebesar 0,070 ampere.
Sedangkan
pada percobaan rangkaian setara Norton secara teoritis nilai tegangan Norton
diperoleh menggunakan persamaan 8, hambatan Norton dengan persamaan 9 dan kuat
arus Norton diperoleh melalui persamaan 10. Pada percobaan pertama dengan
sumber tegangan sebesar 3 volt telah diperoleh nilai tegangan Norton sebesar
1,09 volt, nilai hambatan Norton sebesar 17,14 ohm dan nilai kuat arus Norton
sebesar 0,06 ampere. Pada percobaan kedua dengan sumber tegangan sebesar 6 volt
telah diperoleh nilai tegangan Norton sebesar 2,18 volt, nilai hambatan Norton
sebesar 17,14 ohm dan nilai kuat arus Norton sebesar 0,127 ampere. Pada
percobaan ketiga dengan sumber tegangan sebesar 9 volt telah diperoleh nilai
tegangan Norton sebesar 3,28 volt, nilai hambatan Norton sebesar 17,14 ohm dan
nilai kuat arus Norton sebesar 0,19 ampere.
Berdasarkan
hasil percobaan tersebut, untuk percobaan rangkaian setara Thevenin masih belum
sesuai dengan perhitungan menggunakan persamaan teoritis. Akan tetapi, pada
percobaan kali ini hampir berhasil karena seperti yang dapat dilihat pada hasil
pengukuran dan perhitungan secara teoritis nilai selisihnya tidak terlalu jauh
atau hampir mendekati sama. Perbedaan hasil ini dikarenakan ketidaktelitian
dalam merangkai alat percobaan, tidak teliti dalam menentukan nilai yang
terbaca pada alat ukur, dan juga dikarenakan dalam percobaan ini kita harus
menggunkan kabel penghubung agar percobaan dapat dilakukan, yang tentunya pada
kabel penghubung ini juga mempengaruhi hasil penggukuran karena pada kabel penghubung
telah mengalir arus, sedangkan dalam percobaan ini kita tidak mengukur arus
yang mengalir pada kabel tersebut.
Begitu
pula dengan percobaan rangkaian setara Norton yang masih belum sesuai dengan
perhitungan secara teoritis. Namun percobaan ini selisih antara perhitungan
secara teoritis dengan hasil pengukuran perbedaannya cukup besar dari pada
percobaan rangkaian Thevenin. Dan perbedaan hasil ini sama seperti pada
percobaan rangkaian setara Thevenin sebelumnya yaitu tidak teliti dalam
merangkai peralatan, kurang tepat menentukan pengukuran yang terbaca pada alat,
serta jumlah kabel penghubung yang digunakan lebih banyak dari percobaan
Thevenin yang menyebabkan selisih nilainya lebih banyak antara nilai pengukuran
dan perhitungan secara teoritis.
Pada
perbandingan rangkaian thevenin terlihat bahwa tegangan ekivalen thevenin
secara teori lebih besar daripada tegangan ekivalen thevenin secara percobaan.
Sedangkan pada rangkaian norton, tegangan ekivalen teori lebih kecil daripada
tegangan ekivalen secara percobaan. Keadaan ni dikarenaan pada rangkaian
norton, hambatan ekivalen pada rangkaian terpasang paralel terhadap tegangan
sumber dan hambatan beban sebagaimanan teorima norton.
Berdasarkan
hasil percobaan pada rangkaian thevenin yang hambatan ekivalen terpasang seri
tersebut sesuai dengan teorema thevenin. Bunyi teorema tersebut adalah “setiap
rangkaian dengan dua ujung atau gerbang tunggal, dapat digantikan denagn satu
sumber tegangan tetap atau suatu ggl dan hambatan seri dengan ggl tersebut”.
Begitu pula pada rangkaian norton.
Keadaan pada rangkaian norton yang telah dijelaskan sesuai dengan
teorema norton yang menyatakan “suatu rangkaian listrik dapat disederhanakan
dengan hanya terdiri dari satu buah sumber arus yang dihubungkan secara paralel
dengan suatu tahannan ekuivalennya dua terminal yang diamati.
Adapun
penerapan dari percobaan rangkaian setara ini yaitu untuk penyederhanaan
rangkaian dari rangkaian dari rangkaian yang rumit menjadi rangkaian yang lebih
sederhana, memudahkan kita untuk melakukan pengukuran tetapi dengan hasil yang
tetap sama dengan rangkaian aslinya.
V. SIMPULAN
Pada percobaan rangkaian setara ini
dilakukan dua bentuk percobaan yaitu percobaan rangkaian Thevenin yang dihitung
menggunakan persamaan teoritis sehingga pada ketiga percobaan yang berbeda
sumber arusnya yaitu 3 v, 6 v dan 9 v diperoleh nilai tegangan Thevenin sebesar
0,813 v, 1,626 v dan 2,44 v. Nilai hambatan Thevenin sebesar 34,28 ohm pada
rangkaian dihubung singkat. Dan nilai kuat arus Thevenin sebesar 0,024 A, 0,047
A dan 0,07 A. Sedangkan pada percobaan rangkaian setara Norton secara teoritis,
nilai tegangan Norton pada ketiga percobaan sebesar 1,09 v, 2,18 v dan 3,28 v.
Nilai hambatan Norton yang dihubung singkat sebesar 17,14 ohm dan nilai kuat
arus Norton sebesar 0,06 A, 0,127 A dan 0,19 A. Berdasarkan hasil pengukuran
yang ada pada tabel 1 dan tabel 2 nilai teoritis tersebut diatas masih belum
sesuai. Hal tersebut dikarenakan kesalahan praktikkan seperti ketidaktelitian
dalam merangkai peralatan, ketidaktepatan dalam membaca alat ukur dan
penggunaan kabel penghubung yang tentunya akan mempengaruhi hasil pengukuran. Akan
tetapi, keadaan pada rangkaian thevenin yang hambatan ekivalen terpasang seri
tersebut sesuai dengan teorema thevenin. Bunyi teorema tersebut adalah “setiap
rangkaian dengan dua ujung atau gerbang tunggal, dapat digantikan denagn satu
sumber tegangan tetap atau suatu ggl dan hambatan seri dengan ggl tersebut”.
Begitu pula pada rangkaian norton.
Keadaan pada rangkaian norton yang telah dijelaskan sesuai dengan
teorema norton yang menyatakan “suatu rangkaian listrik dapat disederhanakan
dengan hanya terdiri dari satu buah sumber arus yang dihubungkan secara paralel
dengan suatu tahannan ekuivalennya dua terminal yang diamati.
Adapun penerapan dari percobaan rangkaian setara
ini yaitu untuk penyederhanaan rangkaian dari rangkaian dari rangkaian yang
rumit menjadi rangkaian yang lebih sederhana.
UCAPAN TERIMAKASIH
Saya mengucapkan terimakasih kepada
asisten praktikum Rangkaian Setara (E1) yaitu Riska Asyari Putri yang memberikan bimbingan saat melalukan
praktikum ataupun pralaboratorium. Serta kepada teman-teman satu kelompok yang
telah bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan percobaan ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Tim Dosen Elektronika Dasar I. 2015. Penuntun Praktikum Elektronika
Dasar I. Banjarmasin : FKIP UNLAM
[2]
Sutrisno. 1986. Elektronika I Teori dan Penerapan. Bandung : ITB
[3]
Sutrisno dan Tan Ik Gie. Fisika Dasar II Fisika dan Magnet. Bandung
: ITB
[4]
Tipler. 1996. Fisika untuk Sains san Teknik Edisi Ketiga. Jakarta :
Erlangga
[5]
Istiyono, Edi. 2004. Sains Fisika kelas X. Klaten : Intan Pariwara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar